Laporan Fieldtrip ESDH Kelompok 1 Hut 4C

 

POTENSI EKOWISATA HUTAN MANGROVE SICANANG DI KELURAHAN BELAWAN SICANANG, KECAMATAN MEDAN BELAWAN, KOTA MEDAN, SUMATERA UTARA

 

 

Dosen Penanggungjawab:

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Disusun Oleh:

Jeffery Sinaga                                   191201044

Rizkia Amalia Adinda                      191201057

Amalia Wijayanti                              191201060

Sarah Junita Simangunsong            191201106

Ladiko Karnotua Naibaho               191201118

Muhammad Firza Akbar                 191201125

Muhammad Rafy Pratama              191201204





PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021


                                                         KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulisan laporan dengan judul “Potensi Ekowisata Hutan Mangrove Sicanang di Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara” yang disusun sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam menulis laporan ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen penanggung jawab dan kepada asisten Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang telah membantu dan membimbing penulis dalam pelaksanaan praktikum hingga selesainya laporan ini.

Penulis menyadari masih banyaknya kekurangan dan kelemahan pada tulisan laporan ini akibat terbatasnya kemampuan penulis. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis sangat mengharapkan adanya kritik ataupun saran guna penyempurnaan tugas-tugas selanjutnya dan penulis juga ingin meyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulisan laporan ini.

 

                                                                                                                                      Medan,    Juni 2021

  

                                                                                                                                 Penulis



                                                           PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 1999 mencapai 8,60 juta hektar dan yang telah mengalami kerusakan sekitar 5,30 juta hektar. Kerusakan tersebut antara lain disebabkan oleh konversi mangrove menjadi kawasan pertambakan, pemukiman, dan industri, padahal mangrove berfungsi sangat strategis dalam menciptakan ekosistem pantai yang layak untuk kehidupan organisme akuatik. Keseimbangan ekologi lingkungan perairan pantai akan tetap terjaga apabila keberadaan mangrove dipertahankan karena mangrove dapat berfungsi sebagai biofilter, agen pengikat dan perangkap polusi. Mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai jenis gastropoda, kepiting pemakan detritus, dan bivalvia pemakan plankton sehingga akan memperkuat fungsi mangrove itu sendiri sebagai biofilter alami. Luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan mencapai 8,60 juta hektar dan 5,30 juta hektar di antaranya dalam kondisi rusak. (Mulyadi et al., 2010).

            Ekosistem mangrove (bakau) adalah ekosistem yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga dasarnya selalu tergenang air. Ekosistem mangrove berada di antara level pasang naik tertinggi sampai level di sekitar atau di atas permukaan laut rata-rata pada daerah pantai yang terlindungi). Manfaat ekosistem mangrove yang berhubungan dengan fungsi fisik seperti peredam gelombang, pelindung pantai dari abrasi, gelombang air pasang (rob), tsunami, penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan. Selain itu, Ekosistem mangrove berperan penting dalam pengembangan perikanan pantai karena merupakan tempat berkembang biak, memijah, dan membesarkan anak bagi beberapa jenis ikan, kerang, kepiting, dan udang, Jenis plankton sebagai salah satu pakan alami udang di perairan mangrove lebih banyak dibandingkan di perairan terbuka. Hutan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan organik ke dalam rantai makan (Dimenta et al., 2018).

            Pariwisata hutan Mangrove di Kelurahan Sicanang adalah salah satu hutan mangrove yang terletak di Kelurahan Belawan Sicanang memiliki potensi di Kecamatan Medan Belawan Kota Medan Sumatera utara. Hutan mangrove Kelurahan Sicanang juga memiliki potensi keindahan alam dan kekayaan budaya bernilai tinggi. Hutan mangrove menjadi komponen penting bagi ekosistem pesisir. Hutan mangrove dapat mencegah masuknya sedimen yang berlebih dari darat ke perairan yang dapat merusak ekosistem mangrove dan juga ekosistem karang. Mangrove dapat menahan gelombang dari laut yang dapat mengakibatkan abrasi pantai. Mangrove juga sebagai feeding ground bagi ikan, udang, kepiting, moluska dan lainnya. Juga sebagai nursery ground, dan tempat berkembang biaknya hewan-hewan laut. Salah satu kelurahan yang memiliki hutan mangrove yang cukup baik di Kota Medan adalah Kelurahan Sicanang. Kelurahan Sicanang terbagi ke dalam tiga zonasi, zona pemukiman, zona hutan mangrove dan juga zona budidaya. Hutan Mangrove di Kelurahan Sicanang dikategorikan cukup baik karena masih cukup lebat. Melihat kondisi ini penulis menilai ada potensi ekowisata yang dapat dikembangkan (Putra, 2019).

            Ekosistem mangrove Belawan adalah salah satu kawasan yang terletak di pesisir timur Sumatera Utara, dan memiliki luasan mangrove sekitar 2.967,32 Ha. Kawasan ekosistem mangrove Belawan terletak pada 2 wilayah administratif yaitu: Kotamadya Medan yang memiliki luasan mangrove ± 1.967,32 Ha dan Kabupaten Deli Serdang dengan luasan mangrove ± 1.000 Ha. Kerusakan kawasan ekosistem mangrove kotamadya Medan sebesar 76,42% akibat adanya kegiatan konversi lahan menjadi peruntukan lain seperti lahan permukiman, perkebunan, pertambakan, dan wisata. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas habitat untuk sumberdaya kepiting bakau akibat terjadinya kerusakan daerah asuhan dan mencari makan biota ini (Siringiringo et al., 2017).

Tujuan

            Tujuan dari Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Potensi Ekowisata Hutan Mangrove Sicanang di Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara” adalah untuk mengetahui potensi ekonomi yang terdapat pada hutan mangrove di Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara


                                                           TINJAUAN PUSTAKA

Ekowisata merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Ekowisata dapat memberikan manfaat seperti sumber pendanaan bagi kawasan konservasi alternatif sumber mata pencaharian masyarakat lokal pilihan untuk mempromosikan konservasi dan dorongan upaya konservasi secara khusus. Ekowisata memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan bagi penyelenggara, pemerintah dan masyarakat setempat, melalui kegiatan-kegiatan yang non-ekstraktif dan non-konsumtif sehingga meningkatkan perekonomian daerah setempat. Penyelenggaraan yang memperhatikan kaidah-kaidah ekowisata, mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan (Zanaria, 2012).

Kelurahan Belawan Sicanang merupakan kelurahan yang berada di Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, yang memiliki kawasan hutan mangrove yang masih alami (natural based) dan berpotensi untuk dijadikan kawasan ekowisata. Hal inilah yang mendasari diperlukannya kajian mengenai potensi hutan mangrove yang ada di Kelurahan Belawan Sicanang untuk dijadikan sebagai tempat edukasi maupun ekowisata. Dengan pendekatan ini, harapannya dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan pengelolaan yang tepat untuk kemajuan ekowisata dan berkelanjutan dalam upaya pembangunan ekowisata di Kelurahan Belawan Sicanang Kecamatan Medan Belawan Provinsi Sumatera Utara (Kelurahan sicanang, 2012).

Mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut, sehingga hutan mangrove dinamakan juga hutan pasang. Hutan mangrove dapat tumbuh pada pantai karang, pada karang koral mati yang di atasnya ditumbuhi selapis tipis pasir atau ditumbuhi lumpur atau pantai berlumpur. Hutan mangrove terdapat didaerah yang terus menerus atau berurutan terendam dalam air laut dan dipengaruhi pasang surut, tanahnya terdiri atas lumpur dan pasir. Secara harafiah, luasan hutan mangrove ini hanya sekitar 3% dari luas seluruh kawasan hutan dan 25% dari seluruh hutan mangrove didunia  (Dewi et all., 2017).

Mangrove merupakan salah satu ekosistem langka,karena luasnya hanya 2% permukaan bumi. Indonesia merupakan kawasan ekosistem mangrove terluas di dunia. Ekosistem ini memiliki peranan ekologi, sosial-ekonomi,dan sosial-budaya yang sangat penting; misalnya menjaga stabilitas pantai dari abrasi, sumber ikan, udang dan keanekaragaman hayati lainnya, sumber kayu bakar dan kayu bangunan, serta memiliki fungsi konservasi, pendidikan, ekoturisme dan identitas budaya Hutan mangrove merupakan komonitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Komonitas vegetasi ini umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan subtidal yang cukup mendapat aliran air, dan terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. Karena itu hutan mangrove banyak ditemukan dipantai-pantai teluk yang dangkal, estuaria (Majid, 2016).

Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak yang dapat mengancam regenarasi biota-biota laut termasuk stok ikan dan udang di perairan lepas pantai. Hal ini akan membuat berkurangnya penghasilan nelayan yang bergantung pada banyak sedikitnya ikan, kepiting dan lain-lain yang merupakan hasil tangkapan mereka dari laut. Dilihat dari segi ekosistem perairan, hutan mangrove dikenal sebagai tempat asuhan (Nursery ground) berbagai jenis hewan akuatik seperti ikan, udang, kepiting dan kerang-kerangan fungsi lain hutan mangrove melindungi garis pantai dari erosi, dapat menahan pengaruh gelombang serta dapat pula menahan lumpur, sehingga mangrove bisa semakin luas tumbuh keluar mempercepat terbentuknya tanah yang timbul (Harahab, 2009).

Secara garis besar, mangrove mempunyai beberapa keterkaitan dalam kebutuhan manusia sebagai penyedia bahan pangan, papan, dan kesehatan sehingga lingkungan dibedakan menjadi lima yaitu: Fungsi fisik, fungsi kimia, fungsi biologi, fungsi ekonomi dan fungsi lain dalam konservasinya. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang kompleks terdiri atas flora dan fauna daerah pantai. Selain menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity), ekosistem mangrove juga sebagai plasma nutfah (genetic pool) dan menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya (Alfira, 2014).


                                                           METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

            Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Potensi Ekowisata Hutan Mangrove Sicanang di Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara” ini dilaksanakan pada hari Kamis, 03 Juni 2021 pada pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini dilaksanakan di Ekowisata Hutan Mangrove Sicanang, Kelurahan Belawan Sicanang, Medan.

Alat dan Bahan

            Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah handphone dan alat tulis

            Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Ekowisata Hutan Mangrove Sicanang Belawan dan buku data

Prosedur Praktikum

1.      Dikunjungi Ekowisata Hutan Mangrove Sicanang Belawan

2.      Disiapkan pertanyaan untuk ditanyakan kepada responden

3.      Dilakukan wawancara dengan salah satu pengurus Ekowisata Hutan Mangrove Sicanang Belawan

4.      Dicatat semua hasil wawancara yang telah dilakukan



                                                         HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Kapan ekowisata sicanang ini mulai didirikan? Pada tahun 2015. Bagaimana awal mula ekowisata ini didirikan? Masyarakat sekitar awalnya hanya bertugas menaga keberadaan ekosistem hutan mangrove yang ada disana, namun lama kelamaan muncul inspirasi untuk membentuk kelompok yang bisa mengembangkan tempat itu menadi suatu objek wisata berbasis ekosistem alam dan Pendidikan. Pembangunan pertama yang dilakukan adalah membangun akses jalan berupa jembatan dari bamboo, hal ini dilakukan secara bergotong royong oleh kelompok pekerja tadi dan biaya yang dibutuhkan sekiraya tidak banyak. Saat ini ekowisata sicanang sudah dikenal luas didaerah medan dan dapat meraup omset sekitaran Rp.130.000.000; pertahunnya. Namun semenjak masa pandemic ini mereka mengalami penurunan kunjungan yang drastis. Alasan mengapa ekowisata sicanang ini harus dikunjungi adalah karena hutan mangrove dikota medan hanya ada dikawasan pesisir belawan khususnya di sicanang ini, kemudian mereka menyediakan berbagai resto seafood dan ada juga tour keliling menggunakan boat disekitaran hutan mangrove. Apakah masyarakat sekitar yang ikut serta dalam pengelolaan ekowisata diwilayah ini memperoleh upah? Masyarakat sekitar membentuk kelompok kerja yang peranggotanya diupahi gai sebesar Rp.1.500.000.

Pembahasan

            Salah satu ekowisata mangrove yang ada di Indonesia terletak di Pulau Sicanang, Belawan Pulau Sicanang, Medan Kota Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara. Ekowisata Mangrove Sicanang didirikan pada tahun 2015 sampai dengan saat ini. Proses pendirian Ekowisata ini yaitu didaerah Sicanang tersebut memiliki kelompok masyarakat yang sepakat untuk membangun atau mendirikan ekowisata ini. Awalnya kelompok masyarakat sangat menjaga hutan di daerah tersebut, kemudian mendapat inspirasi untuk mendirikan ekowisata Sicanang untuk menjaga kelestarian dari hutan mangrove. Awal didirikan Ekowisata Mangrove Sicanang ini dibangun dengan menggunakan bambu agar lebih efisien di bidang pengeluaran. Modal awal didirikan ekowisata ini tidak mengeluarkan biaya yang besar karna hanya menggunakan bambu yang diambil dari ladang milik kelompok masyarakat di Sicanang.

            Untuk omset yang didapatkan dari ekowisata ini mencapai hingga 130 juta rupiah. Namun di masa pandemi ini omset dari ekowisata ini berkurang drastis. Pengunjung yang datang pun sangat drastis menurun yang mengakibatkan pemasukan dari ekowisata ini pun sangat drastis turun. Ekowisata mangrove sicanang adalah satu satunya hutan mangrove yang ada di Belawan, kota Medan. Dalam ekowisata ini juga sudah tersedia seperti makanan seafood dan berbagai makanan lainnya sudah disajikan di dalam ekowisata ini. Pengunjung dapat mengeksplorasi setiap sudut hutan mangrove ini dan dapat memperoleh ilmu dari ekowisata tersebut. Peran masyarakat sekitar dalam pengembangan Ekowisata Mangrove Sicanang saat ini tidak terlalu Nampak dikarenakan pandemi yang ada saat ini. Kelompok masyarakat yang ikut serta dalam pengembangan ekowisata ini mendapat upah mencapai 1,5 juta perbulannya.

            Sejak November 2020, Yayasan HUTASIBE yang dimotori Fachrurozi Nasution mengelola Ekowisata Mangrove untuk dijadikan lokasi wisata sekaligus wisata edukasi menjadi destinasi wisata baru, khususnya di kawasan Belawan atau pesisir Medan Utara. Bekerjasama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan masyarakat setempat, Yayasan HUTASIBE berusaha mengelola dan menata kawasan hutan bakau tersebut dengan konsep wisata dan berbasis edukasi sehingga banyak manfaat yang diperoleh setelah mengunjungi ekowisata tersebut.

            Ekowisata Hutan Mangrove Sicanang di Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu perekonomian masyarakat sekitar Hutan Mangrove Sicanang. Bukan hanya memiliki manfaat sebagai penunjang ekonomi masyarakat, namun mangrove juga memiliki manfaat ekologis yang penting dalam menjaga ekosistem, seperti dapat mencegah masuknya sedimen yang berlebih dari darat ke perairan yang dapat merusak ekosistem mangrove dan juga ekosistem karang.


                                                         KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1.    Ekowisata merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

2.    Ekosistem mangrove (bakau) adalah ekosistem yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga dasarnya selalu tergenang air.

3.    Potensi ekowisata ekosistem mangrove sicanang sangat besar di kawasan Medan dikarenakan hutan mangrove di kota Medan hanya ada di kawasan pesisir Belawan khususnya di daerah sicanang ini.

4.    Pendirian ekowisata sicanang diawali oleh kesepakatan masyarakat untuk membangun atau mendirikan ekowisata dengan memulai hal yang sederhana seperti pembuatan jembatan bambu

5.    Info dari narasumber didapat bahwa kisaran omset dengan adanya ekowisata ini kurang lebih Rp. 130.000.000; per tahunnya.

Saran

Perlunya pengembangan ekowisata mangrove sicanang untuk memperbesar peluang dan potensi ekonomi, sehingga dapat mendongkrak perekonomian atau bahkan masyarakat yang ada disekitar ekowisata secara non tersebut.


                                                          DAFTAR PUSTAKA


Alfira R. 2014. Identifikasi Potensi dan Strategi Pengembangan Ekowisata Mangrove Pada kawasan Suaka Margasatwa Mampie di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar.Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin: Makassar.

Dewi IN, Awang S, Andayani W, Suryanto. 2017. Pengembangan Ekowisata Kawasan Hutan Dengan Skema Kemasyarakatan di Daerah DIY. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 24(2): 95-102.

Dimenta R H, Machrizal R, Khairul K. 2018. Distribusi Spasial dan Karakteristik Habitat Udang Kelong (Penaeus indicus) Pada Perairan Ekosistem Mangrove Sicanang-Belawan, Sumatera Utara. Jurnal Pembelajaran dan Biologi Nukleus, 4(1): 19-25.

Harahab N. 2009. Pengaruh Ekosistem HutanMangrove Terhadap Produksi PerikananTangkap (Studi Kasus diKabupaten Pasuruan Jawa Timur). Jurnal Perikanan (J.Fish. Sci.), 11 (1) :124-13.

Kelurahan Sicanang. 2012. Profil Wilayah Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan Tahun 2012.

Majid I. 2016. Konservasi Hutan Mangrove di Pesisir pantai Kota Ternate Terintegrasi Dengan Kurikulum Sekolah. Jurnal BIOedukasi, 4(2).

Mulyadi E, Hendriyanto O, Fitriani N. 2010. Konservasi Hutan Mangrove sebagai Ekowisata. Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, 2(1): 11-18.

Putra R R. 2019. Sistem Informasi Web Pariwisata Hutan Mangrove di Kelurahan Belawan Sicanang Kecamatan Medan Belawan Sebagai Media Promosi. Jurnal Ilmiah Core IT: Community Research Information Technology, 7(2): 84-89.

Siringoringo Y N, Desrita D, Yunasfi Y. 2017. Kelimpahan dan Pola Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla serrata) di Hutan Mangrove Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, 4(1): 26-32.

Zanaria. 2012.  Visitors’ Management of Mangrove Tourism Desa Teluk Pambang. Jurnal Riau, 7(2).

Komentar